Sabtu, 12 April 2014

Deadline

Kata itu ....
"Deadline" kadang kuartikan di ujung tanduk. tapi kata itu pula yang memiliki energi yang paling kuat untuk membangkitkan semagat ku dalam mengejarkan sesuatu.
Istilah sekarang kan The power of kepepet. Saya pun penganut aliran itu ... :-p
Tanggal 21 April  adalah tanggal dimana saya memilih untuk seminar hasil penelitian. tapii.......
terlalu singkat kah ituuu , sedang saya belum menyelesaikan materi presentasi materiku dengan power point. ku berharap semuanya lancar sampai ujian tutup nanti.
Semoga Allah swt memberi kemudahan dan kelancaran di seminar saya nantinya. aaamin.

dari anakmu yang selalu mencoba membanggakan mu

Mutha

Rabu, 09 April 2014

Berburu Gelar Jilid II

Masih teringat saat hasil yudisium telah dibacakan, pertanda gelar baru siap dicantumkan di belakang nama kita. Bangga bercampur haru, tak terasa air mata jatuh saat hasil ujian tutup dibacakan. Tapi, sebelum dibacakan hasilnya, kami diminta untuk menelpon kedua orang tua kami masing-masing dan mengucapkan terima kasih atas doanya. saat itu juga saya menghubungi Beliau. Tapi tak ada sepata kata pun yang keluar saat ada suara di seberang sana. Hanya suara isak tangis, penuh haru bercampur senang atas pengorbanan dan doa Beliau sehingga saya bisa menyelesaikan pendidikan S1 saya jurusan pendidikan fisika.
Hmm. setelah sarjana " mau kemana???" . Pertanyaan itu terus saja menghantui saya, dan mungkin kebanyakan teman-teman yang baru saja mendapat gelar sarjana baru. Pilihan orang berbeda-beda, ada yang memilih ngajar sebagai guru Honorer ada pula yang lebih memilih kerja di luar profesinya.
Sampai akhirnya saya memilih untuk melanjutkan pendidikan saya pada jenjang S2. Mulailah saya memilih kampus tempat saya melanjutkan pendidikan. Konsultasi dengan beberapa dosen pun saya lakukan demi mendapat informasi tentang tempat yang akan saya tuju nantinya. Pilihan universitas akhirnya saya memilih UPI. Tau kan, kampus favorit yang selalu jadi kebanggaan mahasiswa. Tempatnya sejuk dan bersahabat, tempatnya pun sangat strategis di pusat kota Bandung. Hmm. rasanya sudah tidak sabar ingin kuliah di sana.
Proses yang panjang pun dilalui, mulai dari mendaftar dan tes masuk. Masih teringat saya saya dan teman-temanuntuk pertama kalinya berpetualang ke sana.
Menjelang tes, rombongan mahasiswa/i asal UNM (Universitas Negeri Makassar) pun berangkat untuk mengikuti tes masuk. saya berada di antara mereka. Sesampai di Bandara Sukarno-Hatta, kami lanjutkan perjalanan ke Bandung dengan mobil. Kurang lebih 4 jam, kami pun sampai. Tempat pertama yang kami tuju yaitu jalan Geger Kalong Girang (depan mesjid Darut Tauhid AA Gym). 
Kebingungan pun terjadi, saat kami tak tau akan tinggal dimana. Lama kami berdiri di pinggir jalan mencari tempat teduh. Berbekal nomor telepon dari salah seorang dosen  untuk menghubungi nomor tersebut kalau kami tiba di Bandung. Saya pun membuka kertas yang diberikan dan menelpon dan Alhamdulillah, ibu yang baik hati itu pun mau membantu kami mencari tempat kos yang bisa membuat kami nyaman. 
Tibalah waktunya, kami mengikuti tes masuk pascasarjana. Saya saat itu dibuat tegang, saat memasuki gedung tempat kami tes. Tesnya berlangsung dua sesi, yang terdiri dari tes TPA dan tes Bahasa Inggris. 
Saya pun berdoa dan menelpon kedua orang tua untuk memohon restu. Ayah saya mengatakan " lakukan yang terbaik dan jangan lupa berdoa". kalimat itu yang saya pegang sampai akhirnya kedua tes tersebut berakhir.
Kurang lebih 1 bulan setelah setelah tes tersebut, saya pun mendapat kabar dari teman, bahwa saya LULUS. Saking senangnya, saat itu saya berteriak sambil menelpon kedua orang tua dan mengumumkan kelulusan saya via FB. 
Belum lama juga saya merasakan kesenangan ini dan bangga bisa lulus di antara ratusan peserta ujian yang juga ingin masuk pada jurusan yang saya inginkan. Disaat teman-teman lain yang juga lulus, rame-rame menyiapkan berkas untuk pendaftaran ulang. Saya pun mendapat telepon dari orang tua, yaitu ayah saya. Beliau mengatakan bahwa, " kamu tidak usah jauh-jauh  melanjutkan pendidikan di sana, kalo kamu sakit, sapa yang bisa rawat disana" . Belum selesai Beliau bicara, saya pun membantah dan bersikeras mau ke sana. 
Pokoknya impian saya untuk sekolah di sana harus terwujud. pikirku. Jadilah waktu itu, saya bingung, bagaimana memberi penjelasan kepada Beliau (orang tua) bahwa saya tetap akan berangkat. Salah seorang dosen fisika pun saya mintai bantuan untuk membujuk mereka agar saya mendapat ijin untuk tetap berangkat. Tapi karena ayah saya orangnya susah untuk merubah setiap keputusan dan apa yang beliau ucapkan. Jadinya, dosen saya pun menyerah..... 
Tiga hari setelah saya berpikir, bapak saya sakit. Saya sebagai anak tidak tega meninggalkan Beliau. Dari situlah saya berpikir, jikalau saya memang harus pergi sekolah jauh sementara Beliau juga tidak ada yang merawat. Pikiranku pun semakin melanlang buana jauuhhhh. Kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Saya orang pertama yang menyesal tidak mendengar perintahnya atau mungkin ini firasat jikalau saya memang harus dekat dengan Beliau. Di antara saya bersaudara (dua saudara), saya lah rang yang paling dekat dengan ayah saya. Saya orang yang peka saat dia sakit, pastilah ada kontak batin dengan saya. Entah itu perasaan saya tidak enak atau malah saya juga ikut-ikutan sakit. 
Ya Allah Ya rab, Berikanlah kesehatan dan Umur yang panjang untuk Kedua Orang tua ku, dan Jagalah mereka, sebaik baiknya penjagaan Mu ya Allah.
Akhirnya keputusan pun saya ambil, saya tidak melanjutkan pendidikan saya di universitas yang telah lama saya idam-idamkan. ya sudahlah. toh kalau pun saya nekat berangkat tanpa restu Beliau hasilnya akan kurang baik.
Akhirnya saya pun mencoba ikhlas dan kembali melanjutkan pendidikan saya di UNM. Meskipun awalnya saya tidak mau dulu karena memang saya tetap ingin mencari suasana baru. ya di UPI sana. 
Dosen-dosen pun saat matrikulasi heran, kenapa saya ada di ruangan ini???? harusnya kan saya di sana karena mereka tahu bahwa saya lulus di sana, kok kuliahnya malah di sini. Saya pun tidak bisa menjelaskan alasan kenapa saya disini. Hanya saya membalas dengan senyuman. sudah sebulan lamanya matrikulasi berjalan, tapi kok belum ada keikhlasan dari hati saya untuk melanjutkan pendidikan saya disini. Saya sempat berpikir, ini pilihan orang tua saya, bukan pilihan saya. Toh jika akhirnya saya gagal disini, mungkin masih ada harapan mereka mau menuruti keinginanku untuk kesana. 
Lama saya menjalani kuliah di tempat ini dan mencoba untuk menerima bahwa saya memang ditaksirkan disini.  Ayah saya mengatakan " tidak semua orang mempunyai kesempatan untuk melanjutkan pendidikan sama sepertimu, makanya belajar dengan tekun dan bersungguh-sungguh". Saya waktu itu berpikir dan menyadari, kalau saya tidak ikhlas, hasil yang saya peroleh pun akan kurang baik. 
Saya harus sunguh-sungguh dan bisa menjadi mahasiswi terbaik di program studi fisika.
Sekarang saya jadi lebih tekun, dan ikrar itupun saya sudah ucapkan di depan teman-teman saya dan juga orang terdekat saya. Itu yang menjadi penyemangat saya untuk terus belajar dan menimba ilmu di kampus orange ini (UNM) dengan sungguh-sungguh.
Sekarang saya sudah hampir dua tahun menjalani kuliah dan saat ini saya sedang menyusun tugas akhir saya. semoga saya tetap diberi kesehatan agar dapat menyelesaikan kuliah saya dan bisa memberikan yang terbaik untuk kedua orang tua saya.

Dari 

Anak yang selalu ingin menyenangkan mu


Mutahharah Hasyim, S.Pd, c.M.Pd